Pipis Anak dan Emosi Kita

Sampai sekira 20 menitan pascabangun dari tidur siang, Risa lekat di pelukan saya. Selama itu, sambil melihat-lihat lingkungan sekitar, Risa tidak menampakkan sikap ingin buang air kecil. Baru ketika minta menonton senam anak kecil yang sudah kami download siang kemarin, Risa bersikap menahan kemih. Baiknya, Risa langsung bilang pingin pipis.

Seperti biasa, kalau sudah menghadapi situasi seperti itu, saya langsung berlagak seperti bapak-bapak yang hendak mengejar anak kecil dengan suara berat yang dibuat-buat seperti marah akan menangkap.

Berlarilah Risa yang beracting seolah takut saya tangkap. Hanya saja, baru sampai pintu, ia minta digendong sampai ke toilet. Saya menolaknya halus sambil menyuruhnya cepat-cepat menuju toilet. Entah karena mungkin sedang manja, Risa menolak maju mandiri.

Biasanya ia kuat menahan kemih yang sudah terasa mendorong-dorong. Tapi tadi berbeda. Sangkaan saya diganjar kejutan berupa mengucurnya air seni Risa dengan merembes melalui celana bagian selangkangannya.

Kontan saya kesal, meski tidak dengan luapan kemarahan seperti menghadapi orang dewasa yang susah dibilangi. Saya menyadarinya, ia masihlah seorang anak kecil. Dalam menahan kekesalan atas sikap manjanya itu saya hanya menasihatinya dengan skema konsekuensi.

Risa lantas menangis dan saya masih bersikap lempeng. Saya mencoba bertahan dengan sikap ini untuk mengenalkannya pada skema konsekuensi: kalau bersikap begitu, ya akan begini.

Sampai beres saya lap bekas ompolnya pada lantai dan ia bercelana baru, saya membalas pandangannya dengan sikap biasa-biasa. Sebisa mungkin saya tidak menampakkan kekesalan dalam bersikap. Dalam melumerkan situasi yang kikuk seperti itu, saya menawarinya untuk makan siang.

Risa menolak. Pandangan matanya, saya tahu betul, ia menagih untuk menyelesaikan apa yang baru kita mulai tadi dan belum terjalani: menonton video senam anak kecil di komputer.

“Abi, pingin nonton,” pintanya dengan gelisah. Saya merasakannya.

“Tidak,” jawab saya seasertif mungkin.

Kami sudah tahu bahwa ini adalah skema konsekuensi atas sikap tak menyenangkan yang telah ia perbuat di antara kami.

Pecahlah tangisnya. Dengan suara nyaring khas anak kecil merengek minta sesuatu, Risa menjerit dalam tangis.

Sikap saya?

Jelas. Ia harus mendapatkan konsekuensi dari kesepakatan yang telah kami bangun sebelum ini. Memang, terkadang pembelajaran ini terinterupsi oleh orangtua yang tidak setuju dengan cara kami menjalani dan membangun relasi bersama dalam bungkus pendidikan.

Tapi ini hidup keluarga kecil kami. Hehehe. So, I’m still cold 😀

Berjalanlah saya melewati Risa yang sedang menangis karena mendapatkan konsekuensi dari sikapnya kencing di celana, dengan tidak mengindahkan keinginannya.

***

Dulu semasih Risa bayi, diompoli saat menggendongnya pun menyenangkan buat saya. Sama sekali tidak pernah memantik kekesalan. Yang merekah justru tawa renyah dan tergelak.

Di usianya yang kini sudah 4 tahun, tentu ia harus sudah berkenalan dengan skema konsekuensi setelah membangun kesepakatan bersama. Akalnya sudah mulai berkembang dan sayang jika kita masih menimang-nimangnya dengan buaian.

Tapi tetap, jangan pernah menyejajarkan kita dengan anak dalam hal bersikap. Mereka masih didominasi kepolosan, sedang kita sudah tersepuhi banyak bisikan.

Saya kembali ke dunia pendidikan demi keluarga yang tengah kami bangun. Tidak ke sekolah, tidak ke lembaga pendidikan mana pun saya pulang saat ini. Hanya menuju keluarga.

Amboi, kembali menulis itu (masih) susah-susah gampang juga rupanya! 😀

Advertisements