Semangat Perjuangan Panjang untuk Keluarga

Saat FB walking, saya dihadapkan lagi pada postingan tentang seorang tua yang masih bekerja di masa senjanya. Dulu kalau tidak salah ada seorang kakek yang masih melakoni pekerjaan sebagai badut di sebuah taman. Lalu ada yang jualan balon di tempat yang tidak seharusnya, yang dilakukan oleh ia yang sudah lanjut usia.

Seketika saya langsung bertanya-tanya, ke manakah anak-anak mereka yang masih harus bekerja di usianya yang benar-benar tak lagi muda?

Banyak kemungkinan yang tidak pernah bisa saya konfirmasi atas kenyataan-kenyataan tersebut. Bahwa bisa saja anak-anaknya merantau ke lain daerah dan bekerja serabutan hingga tidak bisa mengiriminya uang. Juga bisa jadi bahwa mereka sama sekali tidak memiliki anak dan istrinya sudah meninggal, hingga mereka harus menghidupi diri mereka sendiri. Atau, kemungkinan-kemungkinan lainnya terkait keluarga mereka yang tidak pernah bisa saya pastikan.

Yang jelas, kenyataan-kenyataan yang dihadapi orang-orang tua tersebut memberikan saya pelajaran.

***

Tadi pagi saya mendapati Risa menyudut di pinggir lapangan dengan wajah yang sedih. Saya lantas menghampirinya.

“Kenapa, Sa? Kok sedih begitu? Enggak ikut teteh-teteh olahraga?” tanya saya kepadanya sambil menunjuk murid-murid yang sedang olahraga secara berkelompok.

Memulai jawabannya, Risa sesenggukan sambil berujar, “Risa disuruh keluar sama Nandina!”

“Keluar gimana maksudnya?”

“Kata Nandina, cukup. Jadi Risa disuruh keluar.”

Memerhatikan apa yang sedang murid-murid lakukan di depan kami, saya mengerti. Mereka melakukan permainan secara berkelompok, dan tampaknya selain masih anak bawang di sekolah ini Risa tidak masuk hitungan karena juga berlebih. Jumlah anggotanya menjadi tidak sepadan dengan lawan kelompoknya. Mungkin karena itu Nandina meminta Risa untuk tidak ikutan dan menyuruhnya keluar (dari kelompok).

Risa menangis sejadi-jadinya. Dalam tangisnya itu ia lantas meminta saya untuk membawanya main ke rumah neneknya. Tanpa basa-basi lagi saya langsung mengiyakan dan seketika itu juga Risa meredakan tangisnya.

***

Saya menyiapkan motor tepat ketika Risa sudah siap sedia menaikinya. Kali ini ia meminta duduk di belakang saya, tidak seperti biasanya duduk tepat di belakang kemudi.

Sebelum menuju ke rumah neneknya sengaja saya membawanya ke pasar terlebih dahulu untuk membekalkan makanan ringan dan berbagi kepada paman kecilnya di sana. Kontan Risa menampakkan keriangannya karena diajak jajan seperti ini. Saya pun merasa harus segera menghilangkan kesedihannya setelah tidak biasanya ia dikucilkan teman-temannya di sekolah.[1]

Kami membeli serenceng sereal, dua buah susu kemasan dan sekantung balon. Setelah Risa hanya meminta jajan itu saja, kami langsung menuju rumah nenek. Tidak lupa saya meminta Risa untuk membagi makanan ringan tersebut dengan paman kecilnya sesampainya di rumah nenek.

Di sepanjang perjalanan, Risa tampak riang. Tak henti-hentinya ia bersuara menirukan mesin kendaraan. Sesekali ia keheranan mengamati jalan yang kami tempuh. Jalan ini adalah justru jalan pintas yang suka kami ambil ketika pulang dari rumah nenek. Kali ini saya mengambil jalan ini sebagai jalan pergi, karena satu arah dengan pasar hingga tak harus memutar.

Sampai ketika Risa berhasil mengamati, ia kemudian menyimpulkan dengan lugunya, “Oh, jalan sini…”

Mengalami momen meneduhkan ini, hati saya trenyuh. Anak saya dikucilkan teman-teman bermainnya di sekolah dan menjadi rajuk. Dan keputusan saya untuk membawanya bermain ke rumah nenek semoga dimaknainya sebagai pertolongan terindah dari seorang ayahnya.

Betapa untuk selalu membahagiakannya adalah perjuangan keras dan mungkin saya belum mampu. Tapi ikhtiar itu harus tetap selalu saya upayakan. Mumpung masih terbilang muda meski usia sudah kepala tiga. Saya harus senantiasa semangat dalam memberikan yang terbaik untuk keluarga. Untuk anak dan istri. Untuk orangtua juga.

Karenanya, melihat kenyataan bahwa banyak orang-orang yang sudah lanjut usia namun masih bekerja keras untuk hidupnya sendiri membuat saya malu semalu-malunya.

Sebagai seorang freelance yang tidak berpenghasilan tetap (namun tetap berpenghasilan, hehehe), banyak peluang yang sering saya anggap remeh dan lantas terabaikan. Padahal itu salah satu kanal yang bisa mengantarkan saya membahagiakan keluarga dari satu sisi. Di titik ini saya kerap menyesal. Di usia yang mendekati tua ini, malu rasanya saya masih memiliki semangat yang angin-anginan. Betapa masih banyak hal yang harus diperbaiki dalam diri ini.

Jika masih muda selalu loyo begini, maka semangat macam apa yang akan saya wariskan kepada anak sebagai bekalnya untuk menaklukkan dunia?

Saya tidak boleh kalah lagi oleh orang-orang tua itu![2]

_________________________

[1] Agak rancu saya menjelaskan semua ini. Tapi kami tinggal di sebuah sekolah yang kami diamanahi untuk mengurusnya. Istri saya sebagai kepala sekolah dan saya sebagai freelance yang mengurus media sosialnya. Jadi, murid-murid yang bersekolah di sini adalah “teman-teman Risa di sekolah”, meski Risa sendiri belum bersekolah.

[2] Tuh kan, kalau mau memang bisa! Menyelesaikan tulisan sependek 700-an karakter ini nyatanya bisa selesai dengan cepat. Kuncinya adalah fokus dan yakin bisa! 😀 Apalagi menulis adalah salah satu senjata dalam menaklukkan dunia. Jadi, mainkan! Hehe.