Bercermin dari Anak

Siang itu tiba-tiba kami mendengar surah al-Fatihah dilantunkan dengan nyaring dari luar. Kami yang sedang berada di dalam lantas menuju halaman dalam rumah mencari sumber suara itu. Suaranya sama sekali tidak asing, karena suara tersebut adalah suara Risa, anak kami yang saat itu baru berumur tiga tahunan.

Menuju musala kami bergegas. Suara yang terdengar memang bermuara dari sana. Begitu sampai lokasi, saya tertawa kedap bersama istri. Ternyata Risa sedang melaksanakan salat zhuhur.

Pantas saja, pergi ke mana dia itu saat kami tengah bercengkerama di ruang tengah, tanya saya dalam hati. Rupanya ia pergi keluar itu untuk menunaikan salat.

Terus terang, kami dibuatnya terharu. Sekecil itu Risa sudah menampakkan sikap yang amat kami idam-idamkan. Tetapi, kebanyakan orangtua, seperti halnya kami, dalam menyimpulkan kesan selama membersamai anak seringnya memuat keluhan demi keluhan. Anak kerap kita tuding berperilaku tidak menyenangkan. Memecahkan barang ini lah, mencoreti dinding kamar lah, merongrong kita yang sedang bekerja lah, dan kejadian-kejadian lainnya yang kita anggap tidak ideal.

Sepertinya kita memang harus menyadari. Adakalanya anak kita serasa menyebalkan dan ada saatnya anak kita begitu menyenangkan. Tapi, mereka bersikap begitu tampaknya menyerupai kita.

Kadang kita marah-marah pada anak (suatu keadaan yang tidak menyenangkan bagi anak) hanya karena merasa terganggu. Pada saat yang lain, kita bisa berwajah sangat malaikat sekali; sampai-sampai ketika anak melakukan kesalahan pun kita tidak lantas memarahinya.

See?

Itulah diri kita, yang barangkali “ditiru” oleh anak. Memang peniruannya bukan berdasar kesadaran anak. Namun setidaknya kita bisa mengambil hikmah dari kenyataan ini. Bahwa sungguh tidak adil jika kita kerap mengeluhkan berbagai sikap kurang menyenangkan dari anak, sementara kita sendiri sering tidak memberikannya situasi yang menyenangkan bagi jiwa polosnya.

Kita memang harus bercermin dari anak-anak kita, karena sedikit banyaknya karakter kita terlihat jelas dari performa anak sehari-hari.

Jadi, jangan heran kalau anak kita kadang menggembirakan dan kadang mengesalkan. Seperti keheranan anak kepada kita yang kadang menakutkan dan kadang menyenangkan.

Advertisements