Menyesuaikan Pola Pendidikan di Era Digital

Tepat satu tahun yang lalu saya menulis ini di akun FB,

Status Facebook

Seklise apa yang dikatakan orang, waktu memang terkadang tidak pernah terasa berlalu. Sudah satu tahun kami lewati dari sejak anak kami berumur 3,4 tahun pada saat itu. Betapa kehidupan yang dihadapinya amat berbeda dibanding waktu kami sebagai orangtuanya semasih kecil, seusia ia, dari sisi perangkat.

Seusia 4 tahun ini, Risa sudah harus mengenal gadget yang bermata dua. Di satu sisi, kehadirannya sungguh bisa membantu produktivitas umat manusia. Tidak dipungkiri memang, karena saya sendiri pun mengalami hal itu. Saya menjalani bisnis secara online dengan bantuan smartphone, dan alhamdulillah bisa menghasilkan juga. Selain itu kita bisa mengakses beragam informasi yang kita butuhkan dalam upaya belajar dan pengembangan diri lewat perangkat mobile tersebut.

Namun di sisi yang lain, kehadirannya juga tak diingkari telah membawa manusia ke dalam kehinaan. Ini tidak lain karena banyaknya hal-hal negatif yang bisa disertakan oleh orang-orang jahat ke dalam teknologi yang berkembang sedemikian pesat. Celakanya, tidak sedikit juga mereka yang menikmatinya!

Sebagai orangtua dari kaum Digital Immigrant (tapi saya tidak tua-tua amat kok) yang memiliki anak-anak yang merupakan Digital Native[1], kita harus menyesuaikan diri. Jangan sampai pesatnya perkembangan teknologi yang aplikatif dewasa ini merebut anak-anak dari tangan kita sendiri sebagai orangtuanya.

Jika tidak terus didampingi, mereka akan menggelinding (memangnya bola?) liar sebagaimana masyarakat tanpa aturan yang jelas, karena di era digital ini tidak ada sempadan. Kecuali Pemerintah asertif dalam regulasi, tentunya.

Untuk bisa sampai ke sana (sikap Pemerintah yang asertif) tentu tidak cukup dengan reformasi. Berjumput-jumput permasalahan yang tengah kita hadapi saat ini (terutama pendidikan) tidak akan pernah selesai-selesai jika kita tidak langsung mencabut akar masalahnya: sistem yang rusak dan merusakkan.

Apa itu?

Sekularisme. Dialah yang melahirkan liberalisme yang telah mengacaukan kehidupan ini di segala lini, termasuk pendidikan dan kehidupan bermasyarakat.

Kalau sudah begini, kita tahu harus berpaling ke mana kan? 🙂

***

[1] Pembatasan tahun kelahirannya tidak begitu saya dalami. Tapi kenapa saya berani menyebut diri dan anak sebagai kalangan dari dua generasi masa digital ya?

Sebelum Keputusan Besar

Tidak terasa anak kami, Risa, sudah menginjak usia 4,4 tahun, per saya tulis esai ini. Setiap kali melihatnya saat ini kami sebagai orangtuanya merasa sudah harus mengambil keputusan besar dalam perjalanan keluarga kecil yang kami bangun.

Ini adalah tentang pendidikan yang kami rencanakan untuk Risa alami.

Perbincangan masalah ini muncul pada akhir 2014, ketika istri mendapat amanah mengajar di sebuah lembaga pendidikan yang saat itu saya pikir cukup unik. Unik karena lembaga pendidikan tersebut mengidentifikasi dirinya sebagai bagian kecil dari sebuah homeschooling group yang berpusat di Bogor.

Terus terang, saat itu mendengar adanya lembaga pendidikan ini saya merasakan angin segar. Karena sebelumnya, sejak tahun 2009 saya sudah merasakan bagaimana proses pendidikan berjalan di berbagai macam sekolah. Mulai dari sekolah inklusif, yayasan homeschooling khusus untuk ABK, sampai SLB reguler. Pengalaman selama 4 tahun di sekolah-sekolah tersebut, dengan konfliknya yang dinamis dan nilai yang diametral dengan prinsip/pendirian saya, membuat saya selalu memikirkan akan nasib pendidikan di masa mendatang.

Sebetulnya, kecuali di yayasan homeschooling yang sempat saya masuki, semua masalahnya terletak pada –maaf– biasanya (kalau tidak dikatakan jelek) kurikulum yang dipakai. Saya pernah memikirkan kurikulum nasional secara radikal semata untuk mencari idealitas sesungguhnya untuk pendidikan yang lebih baik. Semua kesimpulannya bermuara pada pendapat saya yang mempermasalahkan kurikulum tersebut. Saya menganggapnya tidak cukup menyentuh akar masalah dalam kaitan kenapa pendidikan harus dijalankan.

Istri saya kala itu diajak rekannya untuk merintis sebuah lembaga pendidikan alternatif. Lembaga tersebut mengambil bentuk sekolah bermodel homeschooling dengan kurikulum khas dan bisa dikatakan sebagai antimainstream.

Dengan intensnya istri saya bercerita tentang tempat barunya mengajar, sedikit-sedikit saya lantas memahami betapa cukup hebat dan kerennya sekolah tersebut. Bahkan untuk sekadar dibandingkan dengan sekolah-sekolah Islam terpadu, saya masih memberikan salut untuk lembaga yang satu ini. Kemunculannya pada saat Kapitalisme begitu digdaya dalam menyetir ouput pendidikan, menjadi angin segar bagi para pengharap revolusi. Termasuk saya.

Pada gilirannya, saat itu, saya sudah setengah memutuskan untuk menjadikan sekolah tersebut menjadi rumah kedua bagi Risa dalam mendapatkan pendidikan. Tapi sekarang, setelah berjalannya sekolah tersebut di tahun ketiga, banyak tirai yang tersingkap bersebab pandangan saya yang terus meluas mencari fiksasi dan tak terkompromikan di antara pandangan yang sulit bertemu. Karenanya kini saya dihinggapi kecamuk pikiran yang luar biasa untuk memutuskan langkah apa yang selanjutnya akan keluarga kami ambil terkait pendidikan Risa: menyekolahkannya di sana atau urung.

Allah selalu benar. Keseimbangan dalam tiap hal yang dipandukannya untuk setiap manusia begitu terasa sekali bahwa kami memang harus demikian seimbang dalam menyikapi hidup. Kebisajadian rasa cinta berbalik menjadi benci sudah sangat terang benderang sebagai contoh. Termasuk dalam praputusan akan di mana dan pada siapa Risa mendapat pendidikan selain di rumah dari kami.

Sedikit banyaknya pada masa praputusan ini, jujur saja, saya dibayang-bayangi residu paradigma hidup yang pernah salah dasar.

Sebagai sesuatu yang dikira akan sangat bersejarah di keluarga kami, insya Allah akan kami museumkan setiap etape yang dilalui, di dalam blog ini, dalam bentuk esai yang mungkin akan menjadi manuskrip untuk Risa saat ia sudah mengerti nanti.

Cianjur, 9 Oktober 2016