Terus(lah) Melangkah

Kemarin, secara tidak sengaja saya menemukan video penuh makna ini di belantara FB. Pastinya ketidaksengajaan ini berbanding lurus dengan skenario yang Allah jalankan.

Ya, melalui video tersebut, kita –khususnya saya– kembali diingatkan untuk kesekian kalinya agar jangan sampai berputus asa dari rahmat Allah.

Yang namanya hidup memang selalu penuh dengan masalah, bukan? Seharusnya kenyataan tersebut sudah menjadi kawan akrab kita. Sebagiannya harus kita selesaikan dengan penuh perhatian yang bisa saja menguras tenaga, pikiran, dan waktu, yang kita rebutan dengan urusan-urusan lain yang sama pentingnya. Sebagiannya yang lain, terkadang memang harus kita biarkan saja dengan kepala dingin.

***

Istri saya kemarin memberitahukan kabar yang cukup mengejutkan. Siswa kelas 3 (sebagai angkatan pertama di sekolah ini) ada yang akan keluar lagi. Sebelum ini sudah ada lima orang siswa dari angkatan pertama yang sudah keluar; tidak lagi belajar di tempat kami.

Siswa terakhir yang rencananya mau keluar ini, alasan yang diutarakan oleh orangtuanya –menurut saya– lucu. Hafalan anaknya, analisisnya, menjadi tidak ada peningkatan yang signifikan selepas tidak dihandle lagi oleh seorang guru yang sudah mengundurkan diri dari sekolah ini.

Entah ya. Tapi mendengar ceritanya saya menganggap orangtua siswa tersebut tidak memandang persoalan secara holistik. Fokusnya tertuju pada tangan sekolah. Padahal, permasalahan yang terjadi pada suatu kelompok manusia itu banyak sekali variabelnya.

Hampir setiap hari di lapangan, istri yang selalu berinteraksi dengan para siswa dan saya yang selalu mengamati, setidaknya tahu betul bagaimana permasalahan yang diungkapkan orangtua siswa yang bersangkutan tidak cukup bisa kami terima.

Tapi, sekolah ini, seperti apa yang pernah disampaikan oleh yang mempunyai (pengelola), harus terus berjalan meski dalam satu kelas hanya ada satu orang siswa. Tentunya setelah menyelesaikan masalah-masalah yang ada. Saya pun mengamininya. Perkataannya tersebut bagi saya keren sekali. Segaris dengan pandangan saya tentang bagaimana sebuah sistem harus berjalan tanpa harus kompromi dengan mereka yang mengikutsertakan diri.

Bagi istri, saya melihatnya, masalah ini cukup menyita pikiran. Bagi saya, lumayan menyita pikiran juga karena istri selalu meminta nasihat, pendapat, dan saran dari saya. Sementara di luar sana, masih banyak yang harus saya pikirkan.

Inilah yang sekiranya sudah membuat saya menjadi kurang fokus dalam membangun mimpi-mimpi sendiri yang selalu tertunda. Pikiran ini cukup terkuras juga saat harus membersamai istri dalam menjalankan tugasnya sebagai pemimpin di sekolah ini. Padahal saya bukan anak buahnya. Saya pembantu gelapnya! Hahaha.

Tapi tidak apa-apa juga sebetulnya, karena kondisi seperti ini akan semakin membuat saya menjadi lebih bijak lagi dalam melihat dan menyelesaikan masalah. Ini yang selalu saya pelajari dan amat saya syukuri.

Saya bukan seorang karyawan. Saya adalah seorang freelancer. Tapi tenaga, waktu dan pikiran saya hampir tersedot pada domain yang seharusnya orang lain selesaikan. Kadang saya mengeluh. Manusiawi kan? Tapi terkadang saya menyukai setiap tantangannya juga.

Mudah-mudahan kondisi ini membuat otak saya selalu fresh dari hari ke hari dan tidak lantas menyusut. Karena dengan berjebahnya tugas-tugas yang harus saya selesaikan akan selalu mengaktifkan sel-sel yang terajut dalam otak. Meskipun, saya akui, alokasi untuk melakukan olahraga sebagai penunjang kesehatan otak selalu menguap begitu saja. Hehe.

Hup!
Semoga mulai saat ini segala sesuatunya berjalan seimbang. Video ini cukup memberikan saya pelajaran yang berharga juga. Bahwa bagaimanapun juga, kita harus tetap melangkah ke depan.

Sesederhana itu, padahal.

Semangat Perjuangan Panjang untuk Keluarga

Saat FB walking, saya dihadapkan lagi pada postingan tentang seorang tua yang masih bekerja di masa senjanya. Dulu kalau tidak salah ada seorang kakek yang masih melakoni pekerjaan sebagai badut di sebuah taman. Lalu ada yang jualan balon di tempat yang tidak seharusnya, yang dilakukan oleh ia yang sudah lanjut usia.

Seketika saya langsung bertanya-tanya, ke manakah anak-anak mereka yang masih harus bekerja di usianya yang benar-benar tak lagi muda?

Banyak kemungkinan yang tidak pernah bisa saya konfirmasi atas kenyataan-kenyataan tersebut. Bahwa bisa saja anak-anaknya merantau ke lain daerah dan bekerja serabutan hingga tidak bisa mengiriminya uang. Juga bisa jadi bahwa mereka sama sekali tidak memiliki anak dan istrinya sudah meninggal, hingga mereka harus menghidupi diri mereka sendiri. Atau, kemungkinan-kemungkinan lainnya terkait keluarga mereka yang tidak pernah bisa saya pastikan.

Yang jelas, kenyataan-kenyataan yang dihadapi orang-orang tua tersebut memberikan saya pelajaran.

***

Tadi pagi saya mendapati Risa menyudut di pinggir lapangan dengan wajah yang sedih. Saya lantas menghampirinya.

“Kenapa, Sa? Kok sedih begitu? Enggak ikut teteh-teteh olahraga?” tanya saya kepadanya sambil menunjuk murid-murid yang sedang olahraga secara berkelompok.

Memulai jawabannya, Risa sesenggukan sambil berujar, “Risa disuruh keluar sama Nandina!”

“Keluar gimana maksudnya?”

“Kata Nandina, cukup. Jadi Risa disuruh keluar.”

Memerhatikan apa yang sedang murid-murid lakukan di depan kami, saya mengerti. Mereka melakukan permainan secara berkelompok, dan tampaknya selain masih anak bawang di sekolah ini Risa tidak masuk hitungan karena juga berlebih. Jumlah anggotanya menjadi tidak sepadan dengan lawan kelompoknya. Mungkin karena itu Nandina meminta Risa untuk tidak ikutan dan menyuruhnya keluar (dari kelompok).

Risa menangis sejadi-jadinya. Dalam tangisnya itu ia lantas meminta saya untuk membawanya main ke rumah neneknya. Tanpa basa-basi lagi saya langsung mengiyakan dan seketika itu juga Risa meredakan tangisnya.

***

Saya menyiapkan motor tepat ketika Risa sudah siap sedia menaikinya. Kali ini ia meminta duduk di belakang saya, tidak seperti biasanya duduk tepat di belakang kemudi.

Sebelum menuju ke rumah neneknya sengaja saya membawanya ke pasar terlebih dahulu untuk membekalkan makanan ringan dan berbagi kepada paman kecilnya di sana. Kontan Risa menampakkan keriangannya karena diajak jajan seperti ini. Saya pun merasa harus segera menghilangkan kesedihannya setelah tidak biasanya ia dikucilkan teman-temannya di sekolah.[1]

Kami membeli serenceng sereal, dua buah susu kemasan dan sekantung balon. Setelah Risa hanya meminta jajan itu saja, kami langsung menuju rumah nenek. Tidak lupa saya meminta Risa untuk membagi makanan ringan tersebut dengan paman kecilnya sesampainya di rumah nenek.

Di sepanjang perjalanan, Risa tampak riang. Tak henti-hentinya ia bersuara menirukan mesin kendaraan. Sesekali ia keheranan mengamati jalan yang kami tempuh. Jalan ini adalah justru jalan pintas yang suka kami ambil ketika pulang dari rumah nenek. Kali ini saya mengambil jalan ini sebagai jalan pergi, karena satu arah dengan pasar hingga tak harus memutar.

Sampai ketika Risa berhasil mengamati, ia kemudian menyimpulkan dengan lugunya, “Oh, jalan sini…”

Mengalami momen meneduhkan ini, hati saya trenyuh. Anak saya dikucilkan teman-teman bermainnya di sekolah dan menjadi rajuk. Dan keputusan saya untuk membawanya bermain ke rumah nenek semoga dimaknainya sebagai pertolongan terindah dari seorang ayahnya.

Betapa untuk selalu membahagiakannya adalah perjuangan keras dan mungkin saya belum mampu. Tapi ikhtiar itu harus tetap selalu saya upayakan. Mumpung masih terbilang muda meski usia sudah kepala tiga. Saya harus senantiasa semangat dalam memberikan yang terbaik untuk keluarga. Untuk anak dan istri. Untuk orangtua juga.

Karenanya, melihat kenyataan bahwa banyak orang-orang yang sudah lanjut usia namun masih bekerja keras untuk hidupnya sendiri membuat saya malu semalu-malunya.

Sebagai seorang freelance yang tidak berpenghasilan tetap (namun tetap berpenghasilan, hehehe), banyak peluang yang sering saya anggap remeh dan lantas terabaikan. Padahal itu salah satu kanal yang bisa mengantarkan saya membahagiakan keluarga dari satu sisi. Di titik ini saya kerap menyesal. Di usia yang mendekati tua ini, malu rasanya saya masih memiliki semangat yang angin-anginan. Betapa masih banyak hal yang harus diperbaiki dalam diri ini.

Jika masih muda selalu loyo begini, maka semangat macam apa yang akan saya wariskan kepada anak sebagai bekalnya untuk menaklukkan dunia?

Saya tidak boleh kalah lagi oleh orang-orang tua itu![2]

_________________________

[1] Agak rancu saya menjelaskan semua ini. Tapi kami tinggal di sebuah sekolah yang kami diamanahi untuk mengurusnya. Istri saya sebagai kepala sekolah dan saya sebagai freelance yang mengurus media sosialnya. Jadi, murid-murid yang bersekolah di sini adalah “teman-teman Risa di sekolah”, meski Risa sendiri belum bersekolah.

[2] Tuh kan, kalau mau memang bisa! Menyelesaikan tulisan sependek 700-an karakter ini nyatanya bisa selesai dengan cepat. Kuncinya adalah fokus dan yakin bisa! 😀 Apalagi menulis adalah salah satu senjata dalam menaklukkan dunia. Jadi, mainkan! Hehe.

Menyesuaikan Pola Pendidikan di Era Digital

Tepat satu tahun yang lalu saya menulis ini di akun FB,

Status Facebook

Seklise apa yang dikatakan orang, waktu memang terkadang tidak pernah terasa berlalu. Sudah satu tahun kami lewati dari sejak anak kami berumur 3,4 tahun pada saat itu. Betapa kehidupan yang dihadapinya amat berbeda dibanding waktu kami sebagai orangtuanya semasih kecil, seusia ia, dari sisi perangkat.

Seusia 4 tahun ini, Risa sudah harus mengenal gadget yang bermata dua. Di satu sisi, kehadirannya sungguh bisa membantu produktivitas umat manusia. Tidak dipungkiri memang, karena saya sendiri pun mengalami hal itu. Saya menjalani bisnis secara online dengan bantuan smartphone, dan alhamdulillah bisa menghasilkan juga. Selain itu kita bisa mengakses beragam informasi yang kita butuhkan dalam upaya belajar dan pengembangan diri lewat perangkat mobile tersebut.

Namun di sisi yang lain, kehadirannya juga tak diingkari telah membawa manusia ke dalam kehinaan. Ini tidak lain karena banyaknya hal-hal negatif yang bisa disertakan oleh orang-orang jahat ke dalam teknologi yang berkembang sedemikian pesat. Celakanya, tidak sedikit juga mereka yang menikmatinya!

Sebagai orangtua dari kaum Digital Immigrant (tapi saya tidak tua-tua amat kok) yang memiliki anak-anak yang merupakan Digital Native[1], kita harus menyesuaikan diri. Jangan sampai pesatnya perkembangan teknologi yang aplikatif dewasa ini merebut anak-anak dari tangan kita sendiri sebagai orangtuanya.

Jika tidak terus didampingi, mereka akan menggelinding (memangnya bola?) liar sebagaimana masyarakat tanpa aturan yang jelas, karena di era digital ini tidak ada sempadan. Kecuali Pemerintah asertif dalam regulasi, tentunya.

Untuk bisa sampai ke sana (sikap Pemerintah yang asertif) tentu tidak cukup dengan reformasi. Berjumput-jumput permasalahan yang tengah kita hadapi saat ini (terutama pendidikan) tidak akan pernah selesai-selesai jika kita tidak langsung mencabut akar masalahnya: sistem yang rusak dan merusakkan.

Apa itu?

Sekularisme. Dialah yang melahirkan liberalisme yang telah mengacaukan kehidupan ini di segala lini, termasuk pendidikan dan kehidupan bermasyarakat.

Kalau sudah begini, kita tahu harus berpaling ke mana kan? 🙂

***

[1] Pembatasan tahun kelahirannya tidak begitu saya dalami. Tapi kenapa saya berani menyebut diri dan anak sebagai kalangan dari dua generasi masa digital ya?

Sebelum Keputusan Besar

Tidak terasa anak kami, Risa, sudah menginjak usia 4,4 tahun, per saya tulis esai ini. Setiap kali melihatnya saat ini kami sebagai orangtuanya merasa sudah harus mengambil keputusan besar dalam perjalanan keluarga kecil yang kami bangun.

Ini adalah tentang pendidikan yang kami rencanakan untuk Risa alami.

Perbincangan masalah ini muncul pada akhir 2014, ketika istri mendapat amanah mengajar di sebuah lembaga pendidikan yang saat itu saya pikir cukup unik. Unik karena lembaga pendidikan tersebut mengidentifikasi dirinya sebagai bagian kecil dari sebuah homeschooling group yang berpusat di Bogor.

Terus terang, saat itu mendengar adanya lembaga pendidikan ini saya merasakan angin segar. Karena sebelumnya, sejak tahun 2009 saya sudah merasakan bagaimana proses pendidikan berjalan di berbagai macam sekolah. Mulai dari sekolah inklusif, yayasan homeschooling khusus untuk ABK, sampai SLB reguler. Pengalaman selama 4 tahun di sekolah-sekolah tersebut, dengan konfliknya yang dinamis dan nilai yang diametral dengan prinsip/pendirian saya, membuat saya selalu memikirkan akan nasib pendidikan di masa mendatang.

Sebetulnya, kecuali di yayasan homeschooling yang sempat saya masuki, semua masalahnya terletak pada –maaf– biasanya (kalau tidak dikatakan jelek) kurikulum yang dipakai. Saya pernah memikirkan kurikulum nasional secara radikal semata untuk mencari idealitas sesungguhnya untuk pendidikan yang lebih baik. Semua kesimpulannya bermuara pada pendapat saya yang mempermasalahkan kurikulum tersebut. Saya menganggapnya tidak cukup menyentuh akar masalah dalam kaitan kenapa pendidikan harus dijalankan.

Istri saya kala itu diajak rekannya untuk merintis sebuah lembaga pendidikan alternatif. Lembaga tersebut mengambil bentuk sekolah bermodel homeschooling dengan kurikulum khas dan bisa dikatakan sebagai antimainstream.

Dengan intensnya istri saya bercerita tentang tempat barunya mengajar, sedikit-sedikit saya lantas memahami betapa cukup hebat dan kerennya sekolah tersebut. Bahkan untuk sekadar dibandingkan dengan sekolah-sekolah Islam terpadu, saya masih memberikan salut untuk lembaga yang satu ini. Kemunculannya pada saat Kapitalisme begitu digdaya dalam menyetir ouput pendidikan, menjadi angin segar bagi para pengharap revolusi. Termasuk saya.

Pada gilirannya, saat itu, saya sudah setengah memutuskan untuk menjadikan sekolah tersebut menjadi rumah kedua bagi Risa dalam mendapatkan pendidikan. Tapi sekarang, setelah berjalannya sekolah tersebut di tahun ketiga, banyak tirai yang tersingkap bersebab pandangan saya yang terus meluas mencari fiksasi dan tak terkompromikan di antara pandangan yang sulit bertemu. Karenanya kini saya dihinggapi kecamuk pikiran yang luar biasa untuk memutuskan langkah apa yang selanjutnya akan keluarga kami ambil terkait pendidikan Risa: menyekolahkannya di sana atau urung.

Allah selalu benar. Keseimbangan dalam tiap hal yang dipandukannya untuk setiap manusia begitu terasa sekali bahwa kami memang harus demikian seimbang dalam menyikapi hidup. Kebisajadian rasa cinta berbalik menjadi benci sudah sangat terang benderang sebagai contoh. Termasuk dalam praputusan akan di mana dan pada siapa Risa mendapat pendidikan selain di rumah dari kami.

Sedikit banyaknya pada masa praputusan ini, jujur saja, saya dibayang-bayangi residu paradigma hidup yang pernah salah dasar.

Sebagai sesuatu yang dikira akan sangat bersejarah di keluarga kami, insya Allah akan kami museumkan setiap etape yang dilalui, di dalam blog ini, dalam bentuk esai yang mungkin akan menjadi manuskrip untuk Risa saat ia sudah mengerti nanti.

Cianjur, 9 Oktober 2016

Bercermin dari Anak

Siang itu tiba-tiba kami mendengar surah al-Fatihah dilantunkan dengan nyaring dari luar. Kami yang sedang berada di dalam lantas menuju halaman dalam rumah mencari sumber suara itu. Suaranya sama sekali tidak asing, karena suara tersebut adalah suara Risa, anak kami yang saat itu baru berumur tiga tahunan.

Menuju musala kami bergegas. Suara yang terdengar memang bermuara dari sana. Begitu sampai lokasi, saya tertawa kedap bersama istri. Ternyata Risa sedang melaksanakan salat zhuhur.

Pantas saja, pergi ke mana dia itu saat kami tengah bercengkerama di ruang tengah, tanya saya dalam hati. Rupanya ia pergi keluar itu untuk menunaikan salat.

Terus terang, kami dibuatnya terharu. Sekecil itu Risa sudah menampakkan sikap yang amat kami idam-idamkan. Tetapi, kebanyakan orangtua, seperti halnya kami, dalam menyimpulkan kesan selama membersamai anak seringnya memuat keluhan demi keluhan. Anak kerap kita tuding berperilaku tidak menyenangkan. Memecahkan barang ini lah, mencoreti dinding kamar lah, merongrong kita yang sedang bekerja lah, dan kejadian-kejadian lainnya yang kita anggap tidak ideal.

Sepertinya kita memang harus menyadari. Adakalanya anak kita serasa menyebalkan dan ada saatnya anak kita begitu menyenangkan. Tapi, mereka bersikap begitu tampaknya menyerupai kita.

Kadang kita marah-marah pada anak (suatu keadaan yang tidak menyenangkan bagi anak) hanya karena merasa terganggu. Pada saat yang lain, kita bisa berwajah sangat malaikat sekali; sampai-sampai ketika anak melakukan kesalahan pun kita tidak lantas memarahinya.

See?

Itulah diri kita, yang barangkali “ditiru” oleh anak. Memang peniruannya bukan berdasar kesadaran anak. Namun setidaknya kita bisa mengambil hikmah dari kenyataan ini. Bahwa sungguh tidak adil jika kita kerap mengeluhkan berbagai sikap kurang menyenangkan dari anak, sementara kita sendiri sering tidak memberikannya situasi yang menyenangkan bagi jiwa polosnya.

Kita memang harus bercermin dari anak-anak kita, karena sedikit banyaknya karakter kita terlihat jelas dari performa anak sehari-hari.

Jadi, jangan heran kalau anak kita kadang menggembirakan dan kadang mengesalkan. Seperti keheranan anak kepada kita yang kadang menakutkan dan kadang menyenangkan.

Pipis Anak dan Emosi Kita

Sampai sekira 20 menitan pascabangun dari tidur siang, Risa lekat di pelukan saya. Selama itu, sambil melihat-lihat lingkungan sekitar, Risa tidak menampakkan sikap ingin buang air kecil. Baru ketika minta menonton senam anak kecil yang sudah kami download siang kemarin, Risa bersikap menahan kemih. Baiknya, Risa langsung bilang pingin pipis.

Seperti biasa, kalau sudah menghadapi situasi seperti itu, saya langsung berlagak seperti bapak-bapak yang hendak mengejar anak kecil dengan suara berat yang dibuat-buat seperti marah akan menangkap.

Berlarilah Risa yang beracting seolah takut saya tangkap. Hanya saja, baru sampai pintu, ia minta digendong sampai ke toilet. Saya menolaknya halus sambil menyuruhnya cepat-cepat menuju toilet. Entah karena mungkin sedang manja, Risa menolak maju mandiri.

Biasanya ia kuat menahan kemih yang sudah terasa mendorong-dorong. Tapi tadi berbeda. Sangkaan saya diganjar kejutan berupa mengucurnya air seni Risa dengan merembes melalui celana bagian selangkangannya.

Kontan saya kesal, meski tidak dengan luapan kemarahan seperti menghadapi orang dewasa yang susah dibilangi. Saya menyadarinya, ia masihlah seorang anak kecil. Dalam menahan kekesalan atas sikap manjanya itu saya hanya menasihatinya dengan skema konsekuensi.

Risa lantas menangis dan saya masih bersikap lempeng. Saya mencoba bertahan dengan sikap ini untuk mengenalkannya pada skema konsekuensi: kalau bersikap begitu, ya akan begini.

Sampai beres saya lap bekas ompolnya pada lantai dan ia bercelana baru, saya membalas pandangannya dengan sikap biasa-biasa. Sebisa mungkin saya tidak menampakkan kekesalan dalam bersikap. Dalam melumerkan situasi yang kikuk seperti itu, saya menawarinya untuk makan siang.

Risa menolak. Pandangan matanya, saya tahu betul, ia menagih untuk menyelesaikan apa yang baru kita mulai tadi dan belum terjalani: menonton video senam anak kecil di komputer.

“Abi, pingin nonton,” pintanya dengan gelisah. Saya merasakannya.

“Tidak,” jawab saya seasertif mungkin.

Kami sudah tahu bahwa ini adalah skema konsekuensi atas sikap tak menyenangkan yang telah ia perbuat di antara kami.

Pecahlah tangisnya. Dengan suara nyaring khas anak kecil merengek minta sesuatu, Risa menjerit dalam tangis.

Sikap saya?

Jelas. Ia harus mendapatkan konsekuensi dari kesepakatan yang telah kami bangun sebelum ini. Memang, terkadang pembelajaran ini terinterupsi oleh orangtua yang tidak setuju dengan cara kami menjalani dan membangun relasi bersama dalam bungkus pendidikan.

Tapi ini hidup keluarga kecil kami. Hehehe. So, I’m still cold 😀

Berjalanlah saya melewati Risa yang sedang menangis karena mendapatkan konsekuensi dari sikapnya kencing di celana, dengan tidak mengindahkan keinginannya.

***

Dulu semasih Risa bayi, diompoli saat menggendongnya pun menyenangkan buat saya. Sama sekali tidak pernah memantik kekesalan. Yang merekah justru tawa renyah dan tergelak.

Di usianya yang kini sudah 4 tahun, tentu ia harus sudah berkenalan dengan skema konsekuensi setelah membangun kesepakatan bersama. Akalnya sudah mulai berkembang dan sayang jika kita masih menimang-nimangnya dengan buaian.

Tapi tetap, jangan pernah menyejajarkan kita dengan anak dalam hal bersikap. Mereka masih didominasi kepolosan, sedang kita sudah tersepuhi banyak bisikan.

Saya kembali ke dunia pendidikan demi keluarga yang tengah kami bangun. Tidak ke sekolah, tidak ke lembaga pendidikan mana pun saya pulang saat ini. Hanya menuju keluarga.

Amboi, kembali menulis itu (masih) susah-susah gampang juga rupanya! 😀

Keluarga: Sebuah Tempat Kita Bermula

Dulu kita adalah seorang bayi.

Bisa dipastikan dalam beberapa rentang waktu ke depan pascalahir, sampai kita menginjak bangku sekolah dan menerima beragam pengalaman yang kemudian mengendap menjadi memori, kita tidak bisa mengingat banyak hal kecuali sedikit saja. Kadang dari cerita orang, kadang dari sepotong gambar bisu yang disebut foto (pengecualian untuk generasi yang lahir berorangtuakan kaum milenial).

Pada celah-celah ingatan kita akan masa kecil, terselip memoar sepasang insan yang kemudian kita kenal sebagai ayah dan ibu. Karena merekalah kita lahir ke dunia ini. Mereka juga yang mengurus kita sedari kecil sampai dirasa mampu untuk menjadi pribadi yang mandiri.

Sampai kita pun menjadi seperti mereka: berkeluarga.

Kemudian sejarah seolah kita setir balik dan mengulangi potongan-potongan yang pernah kita alami. Bedanya, kini kita menjadi pelaku yang memungkinkan mengubah sejarah dengan kesadaran penuh.

Sekarang, di samping saya ada seorang anak kecil. Di sampingnya lagi ada seorang perempuan. Saya sudah berkeluarga. Ada mereka yang harus saya perjuangkan.

Dengan style yang bagaimanapun, tangan mereka tidak boleh saya lepas. Kami harus selalu bersama. Berjalan bersama, berlari bersama, dan tumbuh bersama. Inilah lingkaran terkecil di mana kami membangun kesadaran-kesadaran awal dalam menjalani kehidupan secara bersama. Di lingkaran ini kami mengkaji setiap apa yang dihadapi dalam kehidupan, demi kemaslahatan bersama. Hingga pada akhirnya, yang akan terus kami lakukan bukan saja hanya untuk keluarga kami sendiri, tapi juga untuk keluarga-keluarga yang lain.

Kita harus menyemai kebermanfaatan dan memanennya untuk masa depan yang lebih baik lagi. Tidak hanya di sini, di dunia ini. Tapi juga untuk kehidupan nanti yang kekal, di akhirat sana.

Dan, semuanya bermula dari keluarga yang kita bangun sendiri.